.

Header ads

Header ads

Elon Carlan, Semangat Samurai dari Kuningan

Satoichi adalah salah satu legenda samurai dengan segala keterbatasan penglihatan, ia bisa menjadi seorang samurai yang tangguh yang disegani kawan atau lawan. Satoichi bukan tokoh yang dikenal Elon. Namun mereka punya kesamaan yakni, keterbatasan penglihatan dan semangat samurai yang didasari pada kebanggaan, martabat dan kejujuran. Kondisi tersebut menjadikan Elon sangat peka terhadap perubahan yang terjadi di sekelilingnya.

Memahami kekurangan diri sendiri bukan untuk menciptakan sikap pesimistis dan berkecil hati. Bagi Elon Carlan memahami kekurangan adalah langkah awal untuk menggali dan menata potensi yang ada, sehingga menjadi sebuah kelebihan yang melahirkan sikap optimistis.

Walau terlahir dengan mata buta, Elon kecil tidak pernah berkecil hati. Ia seorang anak yang ceria dan ulet. Saat memasuki usia sekolah, ia diijinkan mengikuti pelajaran tetapi tidak tercatat sebagai siswa di SD N I Karang Anyar. Itu dikarenakan para pendidik di sekolah tersebut meragukan kemampuan Elon tanpa penglihatan yang sempurna.

Namun, mendapat perlakuan tersebut ia tidak berkecil hati, justeru memicu semangatnya untuk berprestasi seperti anak-anak normal lainnya. Dan itu bisa dibuktikan oleh Elon, bahkan ia bisa mengungguli teman-temannya.

Kemampuannya dalam mengingat dari apa yang didengarnya, membuat orang kagum kepadanya. Dengan prestasi seperti itu, dalam waktu hanya tiga bulan ia berhasil meyakinkan para pendidik di sekolah tersebut. Akhirnya Elon tercatat resmi menjadi murid di SD N I Karanganyar dan bisa menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah tersebut tahun 1985.

Ia melanjutkan sekolahnya di SMP LB- A Perwari dan lulus tahun 1988. Kemudian menyelesaikan sekolah lanjutan atasnya di SMA Pertiwi tahun 1991.

Bakatnya dalam memimpin mulai terlihat saat ia duduk di sekolah menengah atas. Ia sering menjadi insfirator sekaligus koordinator bagi teman-temannya. Di kurun tersebut, ia sudah menjadi pemimpin delegasi Lomba P4 se-Kabupaten Kuningan, menjadi peserta Lomba Berpidato Bahasa Inggris antar SMA se-Kuningan, dan ia beserta kawan-kawannya sering menjadi juara lomba matematik tingkat SLTA se-Kabupaten Kuningan.

Pelajaran matematik dan bahasa Inggris adalah pelajaran favoritnya, sehingga di tempat tinggalnya, ia memberi les matematik dan bahasa Inggris bagi teman-temannya yang kesulitan dalam mempelajari kedua mata pelajaran tersebut.

Kemampuannya dalam berbahasa Inggris ia peroleh dari Helga, seorang dokter spesialis penyakit kusta berkebangsaan Belanda yang bekerja di RS Cirebon. Pertama kali pertemuan Helga dan Elon terjadi pada tahun 1989. Dokter tersebut menaruh simpati dan kagum melihat kemampuan Elon. Akhirnya, dokter spesialis itu menanggung biaya sekolah Elon dan sering menyuruh tinggal dirumahnya untuk mengasah kemampuan Elon ber-bahasa Inggris.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Nasib baik tidak selamanya berpihak kepadanya. Di saat lulus dari bangku SMA, dokter Helga yang telah dianggap sebagai orang tua asuhnya, telah habis masa kontrak kerjanya di Indonesia. Ia memutuskan kembali ke negeri Belanda. Ia sempat mengajak Elon untuk turut serta, namun orang tua Elon tidak mengijinkannya. Pupuslah harapan Elon yang selalu diimpi-impikannya, yakni ingin kuliah di perguruan tinggi.

Karena tidak ada lagi yang menyokong hidup dan sekolahnya, rasa percaya diri Elon sempat ‘jatuh’. Namun, ia berusaha bersikap realistik dengan menerima secara ikhlas semua apa yang menimpa dirinya, dan semangat ‘ngotot’ untuk tidak mudah menyerah. Akhirnya, selepas SMA ia bersama komunitas anak jalanan berpetualang ke Bandung hingga ke Jakarta. Ia mencoba berbagai pekerjaan seperti pengamen, pemulung, jualan es, hingga mengemis.

Sekembalinya ke Kuningan, dengan berbekal pengalaman hidup selama berpetualang, ia mulai mengkoodinir para tunanetra yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau yang sempat mengamen bersamanya untuk menjadi pemijat. Dengan keberaniannya berkomunikasi dengan para pejabat dari dinas terkait setempat, Elon berusaha meyakinkan mereka untuk melakukan pelatihan, workshop, dan penataran-penataran, bagi teman-temannya. Selanjutnya, ia melakukan pendekatan pada Dinas Sosial Kuningan untuk mendapatkan bantuan peralatan agar bisa menunjang pekerjaan teman-temannya selepas mereka memperoleh pendidikan pelatihan.

Semua itu ia lakukan dengan penuh kebanggan pada apa yang ia kerjakan dan semangat ‘keukeuh’ serta keyakinan bahwa sesuatu bisa berhasil bila dilakukan dengan pantang menyerah, yang berlandaskan keiklasan dan kejujuran. Itulah semangat samurai gaya Elon di awal perjuangan dalam menjalani hidupnya.

Jalan menjadi ‘Pemuda Pelopor’

Dalam pergaulannya di lingkungan pemuda karang taruna, Elon menyarankan pada teman-temannya yang memiliki motor untuk menjadi tukang ojeg bagi penunjang kelangsungan kehidupannya. Ia pun memberikan kursus bahasa Inggris pada mereka agar dapat menjadi pemandu wisata bagi turis-turis asing yang berkunjung ke Kabupaten Kuningan.

Dari upayanya yang tidak pantang menyerah, perlahan-lahan membuahkan hasil. Kabupaten Kuningan mulai terbebas dari gelandangan dan pengemis tunanetra.

Teman-temannya yang telah memperoleh keahlian, mulai bisa hidup mandiri. Mereka berangkat ke kota-kota besar membangun jaringan ekonomi perdagangan yang mereka sebut sebagai kelompok BRI (bubur, rokok dan mie rebus).

Untuk menyambung kehidupannya, Elon membuka les bahasa Inggris. Kehadiran Elon sebagai pembimbing bahasa Inggris, memberi motivasi tambahan bagi anak didiknya. bahwa meraih keberhasilan bisa dilakukan oleh siapapun, termasuk orang yang memiliki keterbatasan fisik, asal dilakukan dengan sungguh-sungguh, rajin dan pantang menyerah.

Rupanya kegiatan yang dilakukan Elon telah menarik perhatian Bupati Kuningan. Akhirnya, pada tahun 1994 ia dikirim ke Jakarta untuk mengikuti seleksi Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, dan terpilih sebagai Juara I Pemuda Pelopor Nasional di Bidang Penciptaan Lapangan Kerja dan Kewirausahaan. Atas keberhasilannya itu, akhirnya pada tahun 1994 ia memperoleh sebidang bangunan dan tanah dari pemerintah pusat untuk dipergunakan pusdiklat para penderita kekurangan fisik.

Pada tahun 1998, ia bersama teman-temannya berangkat ke Bandung dalam rangka memperjuangkan hak para penyandang keterbatasan fisik agar tidak diperlakukan secara diskriminatif, dimana mereka bisa diterima bekerja di kantor-kantor pemerintahan. Pada saat berada di Bandung tersebut ia mengalami kecelakaan lalu lintas, tertabrak mobil.

Dengan fisik yang dirasa tidak memungkinkan, akhirnya pada tahun itu pula Elon mengembalikan asset bangunan beserta manajemen pengelolaan pusdiklat yang ia dirikan kepada pemerintah.

Kisah Romantisme Elon dan Kokoy

Pada tahun 2000, akhirnya Elon Carlan menikahi tambatan hatinya, Kokoy Kurnaety, teman sekolahnya sesama tunanetra. Ia putri seorang pejabat kepala bagian keuangan yang bekerja di Kantor Pemda Kuningan.

Menurut sang istri, ketertarikan Elon terhadap dirinya sudah terasa sejak duduk di bangku sekolah dasar. Elon memperoleh informasi tentang Kokoy dari gurunya, bahwa Kokoy adalah seorang gadis yang cantik. Karenanya sampai bersekolah ke SLTP yang sama, Elon selalu mencuri waktu untuk berusaha mendekati gadis pujaannya. Itu membuat repot Udin, sang penjaga sekolah yang terus diperintahkan ibu asrama untuk terus ‘memonitor pergerakan’ Elon.

Sebagai seorang gadis yang memiliki keterbatasan fisik, sebenarnya ia pun menginginkan seorang suami yang memiliki fisik normal. Karena itu, Kokoy sempat menjauhi Elon hingga tidak berkomunikasi selama 3 tahun.

Setelah Elon memperoleh penghargaan Pemuda Pelopor Tingkat Nasional, kesempatan untuk mendekati Kokoy kembali terbuka lebar. Ia menjadikan Kokoy sebagai sekretaris pada organisasi PERTUNI (Perhimpunan Tunanetra Indonesia) dimana Elon menjabat sebagai ketuanya.

Saat Kokoy meneruskan pendidikannya di UPI Bandung, Elon sering menghubunginya bahkan menawarkan pada Kokoy dan teman-temannya untuk menjadi staf pengajar di sekolah pusdiklat yang baru didirikannya.

Komunikasi tersebut terus berlanjut, hingga Elon sering mengunjungi Kokoy yang tinggal di Asrama Wiyataguna Bandung. Di Bandung cinta Kokoy lambat laun mulai bersemi saat mereka sering jalan bersama.

Saat Elon mengalami kecelakaan lalu lintas, Kokoy merasa terenyuh hatinya. Ia merasa bersalah dan ikut bertanggung jawab atas kejadian yang dialami Elon. Rasa cinta, sayang dan kasihan tidak kuasa lagi ia abaikan. Akhirnya Kokoy memutuskan untuk menjadikan Elon sebagai tambatan hatinya.

Awalnya hubungan mereka mendapat tantangan keras dari keluarga Kokoy. Ada perasaan khawatir dalam pikiran mereka bahwa kehidupan putrinya dan Elon kelak yang sama-sama mengalami cacat tunanetra tidak bisa berjalan dengan baik.

Namun, semangat Elon yang ‘keukeuh’ pantang menyerah terus berupaya meyakinkan kedua orang tua Kokoy bahwa ia bisa membahagiakan gadis pujaannya itu. Akhirnya, calon kedua mertuanya itu hatinya luluh dan merestui Elon untuk menikahi putrinya.

Keluarga kecil yang bahagia

Dari hasil pernikahan pada tahun 2001, Elon dan Kokoy dikaruniai seorang anak perempuan cantik yang mereka namai Silmy Mega Pratiwi. Mereka pun mengangkat seorang anak lelaki yang sama memiliki keterbatasan fisik, bernama Deni Saputra, yang telah ditelantarkan oleh kedua orangtuanya sejak usia 9 tahun.

Perasaan takut dan cemas terbesar yang dirasakan semasa hidupnya timbul saat istrinya mengandung. Ia khawatir anak yang terlahir matanya buta. Akhirnya kegundahan itu hilang setelah putrinya lahir dengan fisik yang normal.

Kegundahan dan ketakutan muncul kembali saat putrinya mulai tumbuh. Rasa percaya dirinya mulai hilang dalam hal mengasuh putrinya. Apalagi saat Silmy kecil sempat tidak mau bila diajak jalan bersama oleh kedua orangtuanya.

Namun, setelah masuk sekolah dasar, Silmy mulai memiliki kebanggaan pada apa yang dilakukan kedua orangtunya. Sejak itu hingga kini, ia sering membawa teman-temannya untuk berkunjung ke rumahnya. Ia dengan bangganya akan menunjukkan pada teman-temannya foto-foto kegiatan ayahnya bersama para pejabat, dari bupati, gubernur hingga presiden.

Elon menjadi trenyuh. Rasa kekhawatiran dan ketidakpercayaan dirinya dalam mengasuh anak yang sempat muncul, hilang seketika. Ia menjadi lebih percaya diri untuk menjadikan dirinya sebagai panutan bagi putrinya.

Begitupun Silmy, dimana keberadaan fisik kedua orangtuanya yang telah meraih segudang prestasi, secara tidak langsung ikut memicu semangatnya sejak dari usia dini untuk bisa menyamai kesuksesan kedua orangtunya kelak, bahkan kalau bisa melebihinya.

Di dalam membina mahligai keluarga, Elon mengajarkan dengan tegas sikap disiplin, serlalu berprilaku jujur, hormat dan menghargai pada apa yang dilakukan oleh orang lain, menjalani hidup dengan penuh kesabaran, serta menjalankan syariat agama dengan benar dan ikhlas.

Pelopor Sekolah-sekolah ‘Luar Biasa’

Pada tahun 2007, Elon diberi hibah oleh pemerintah provinsi sebidang tanah seluas 20 ha untuk dijadikan sekolah luar biasa. Biaya pendirian bangunan dan sarana pendukung lainnya ia peroleh dari pemerintah kabupaten. Sekolah tersebut ia beri nama SLB “Taruna Mandiri”. Setelah terkelola dengan baik, dua tahun kemudian sekolah tersebut dikembalikan kepada pemerintah untuk dijadikan sekolah negeri. Namun, pengelolaan asrama siswa masih ditangani oleh Elon dan istrinya lewat Yayasan “Bina Insani” yang didirikannya.

Kemudian Elon beserta Isterinya lewat yayasan yang dikelolanya mendirikan sekolah baru yang ia beri nama sesuai dengan nama yayasan, yaitu SLB “Bina Insani”. Kokoy yang telah diangkat menjadi PNS dan menjadi salah satu staf pengajar di SLB N “Taruna Mandiri “ diangkat menjadi kepala sekolah di SLB “Bina Insani”. Rencananya sekolah ini bila sudah terkelola dengan baik, ia akan kembalikan lagi kepada pemerintah untuk dijadikan sekolah negeri.

Karena prestasi-prestasinya itu, tahun 2012 ia diangkat menjadi PNS dengan jabatan Esselon 4 (empat), di Bagian Kesra pada Kantor Sekretariat Daerah, dengan jabatan sebagai Kasubag Pendidikan, Olahraga dan Kepemudaan.

Atas upaya Elon dalam memperjuangkan kesetaraan hak para penyandang cacat, berimbas kepada keberadaan Bupati dan wilayah Kabupaten Kuningan sendiri. Pada 18 Nopember 2013, Bupati Kuningan memperoleh penghargaan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, sebagai kepala daerah yang berhasil memberi dukungan, perhatian dan peran sertanya dalam Pembudayaan dan Pendidikan Inklusif di Indonesia.

Selain kedua SLB yang telah didirikannya, dengan bantuan dari Kementerian Pendidikan Nasional, ia kembali memperoleh bantuan tanah dan bangunan untuk dijadikan sekolah luar biasa di perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang diberi nama SLB “Perbatasan”. Lagi-lagi sekolah ini setelah terkelola dengan baik dikembalikan kepada pemerintah pusat untuk dinegerikan. Elon sendiri sampai saat ini masih menjabat sebagai kepala sekolah di sekolah tersebut. Karena kesibukannya sebagai PNS di Kabupaten Kuningan, ia hanya seminggu sekali menyambangi sekola tersebut, pada hari Sabtu saat kantor kabupaten libur.

Kini ia memperoleh bantuan sebesar 4 milyar dari pemerintah pusat. Bantuan tersebut akan ia gunakan untuk membangun sebuah sekolah khusus di atas sebidang tanah seluas 60 ha milik Pemda Kuningan. Sekolah tersebut nantinya akan diperuntukan bagi anak yang memiliki bakat khusus dari segala bidang (olahraga, kesenian, science dll.) yang datang dari keluarga tidak mampu. Tempat itu merupakan asrama tinggal yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang untuk melatih bakat anak-anak tersebut selama menuntut pendidikan formal. Karena itu, bangunan tersebut bukanlah sebuah lembaga formal.

Mereka akan dijaring sejak usia sekolah dasar lewat lomba-lomba kejuaraan antar pelajar yang diadakan di-tingkat kabupaten. Selanjutnya mereka akan diseleksi terlebih dahulu oleh suatu tim khusus yang akan menentukan layak atau tidaknya seorang siswa bisa mendapatkan beasiswa dan menetap di asrama tersebut.

Pernak-Pernik Cerita Menarik dari Para Sahabat

Banyak cerita menarik dari para sahabat Elon Carlan saat mereka bersama-sama berjuang mendampinginya hingga saat ini.

Menurut teman-temannya selain peduli pada orang lain, ia pun seorang penderma. Sehingga tiada hari tanpa mentraktir makanan pada orang-orang di sekelilingnya. Karena itu, ia sempat diingatkan Budi Permana, supir pribadi kantornya, agar tidak terlalu baik pada orang lain dan menjaga pengeluaran uangnya dengan bijak. Namun, dengan santai ia menjawab.

“Aku kan orang buta, kalau tidak baik pada sesama mana mungkin orang baik padaku. Aku bisa dengan mudah dicelakai. Anggap saja kebaikanku sebagai upaya menitipkan keselamatan diri pada orang lain”. Elon juga berkeyakinan sesuai kepercayaan yang dianutnya, Tuhan akan membalas dengan rezeki lebih banyak bila kita memberi dengan ikhlas pada orang lain.

Karena itu tidak heran, dimanapun Elon berada, orang yang mengenal dia dan ada di sekitarnya akan segera berebut untuk membimbingnya.

Budi Permana sendiri awalnya adalah seorang supir angkot. Elon mengajaknya untuk bekerja di kantornya. Akhirnya ia diterima menjadi karyawan honorer di lingkungan Pemda Kuningan.

Seorang Elon memang sangat perhatian pada orang-orang di sekelilingnya, terutama pada sesama para penyandang cacat yang berprestasi. Misalnya, Elon mengajak atlit-atlit penyandang cacat dari daerah lain yang tidak memiliki pekerjaan untuk bekerja di Kabupaten Kuningan, dengan syarat bisa memberikan paling sedikit 3 (tiga) medali emas bagi Kabupaten Kuningan. Di antaranya A. Kadarisman, atlit lari yang berhasil mempersembahkan lebih dari tiga medali emas pada kejuaraan olahraga cacat tingkat kota/kabupaten. Setelah menjadi karyawan selama 6 (enam) tahun akhirnya ia diangkat menjadi PNS di Kabupaten Kuningan. Selain A. Kadarisman ada beberapa atlit lain yang berhasil diangkat menjadi PNS atas prestasinya itu.

Sikapnya yang ngotot dan pantang menyerah bisa memberikan keyakinan kepada teman-temannya untuk ikut terlibat pada sesuatu yang tengah dikerjakannya. Itu teralami oleh W. Gumbira, salah satu anggota stafnya, yang sama-sama seorang cacat.

Ujarnya Elon adalah seorang pejuang yang gigih. Di tahun 1997, dengan semangat tinggi ia berhasil meyakinkan teman-temannya untuk ikut unjuk rasa memperjuangkan Undang-undang No IV, Tahun 1997 tentang kesetaraan hak para penyandang cacat di bidang pekerjaan, ke Gedung Sate Bandung.

Isi Undang-undang tersebut di antaranya, agar di setiap perusahaan atau instansi pemerintah yang memiliki seratus orang karyawan harus mengangkat satu orang karyawan yang memiliki keterbatasan fisik. Dari perjuangan Elon tersebut hingga saat ini di seluruh Pemkab Kabupaten Kuningan tercatat ada 21 (dua puluh satu) orang penyandang cacat yang telah diangkat menjadi PNS.

Di masa remaja, Elon termasuk anak ‘bandek’ dan ‘flayboy’. Itu membuat pusing Udin, sang penjaga sekolah. Ia sering ditegor oleh ibu Asrama karena sering gagal memonitoring kegiatan Elon. Pada waktu itu Elon disinyalir sering masuk asrama putri lewat lorong yang menghubungkan kamar mandi laki-laki ke salah satu ruangan di asrama putri.

Menurut Nurjanah, salah satu staf pengajar di SLB N “Taruna Mandiri” yang juga mantan wali kelas Elon saat bersekolah di SLTP, bahwa walau Elon dicap menjadi anak ‘nakal’, ia termasuk siswa pintar yang sangat serba ingin tahu. Apabila seorang guru menjelaskan materi pelajaran, ia akan terus bertanya sampai di luar jam sekolah hingga memahami betul isi materi pelajaran tersebut.

Menurutnya ada mitos di kalangan guru-guru pembimbingnya saat itu tentang kepintaran Elon. Yakni, setelah ia menjalani operasi glukoma pada matanya, tiba-tiba saja Elon menjadi anak yang super pintar melebihi rekan-rekannya. Ia pun memberi les pelajaran yang sulit bagi sebagian besar teman-temannya, yaitu bahasa Inggris dan matematika.

Walau menjadi siswa pintar, ia tidak serta merta bisa diterima melanjutkan di STAI (Sekolah Tinggi Agama Islam) Cirebon. Karena kelemahan fisiknya ia ditolak untuk menjadi siswa di kampus tersebut, seperti yang dituturkan Dandy, salah seorang kepercayaannya. Namun, ketika Elon berhasil menyelesaikan S1 di tiga universitas dan berhasil diangkat menjadi PNS, para wartawan yang meliput mulai mempersoalkan perlakuan STAI Cirebon terhadapnya.

Sontak pihak STAI Cirebon segera menghubungi Elon untuk memohon maaf. Tapi Elon sendiri sebenarnya sejak dulu sudah tidak pernah mempersalahkannya. Namun, para jurnalis yang ‘mencium’ aroma diskriminatif tersebut, mengungkapkan di media secara bombastis.   

Cerita Ero, yang juga salah seorang staf pengajar di SLB N “Taruna Mandiri”, yang paling berkesan selama tinggal bersama Elon di asrama sekolah adalah makan mie instan kering, tanpa digodok dengan air mendidih. Itu dikarenakan jalan pikiran Elon praktis dan cepat dalam mengambil keputusan, walau terkadang keputusannya agak keliru. Seperti misalnya, saat bulan puasa ia bersama Elon diberi hantaran nasi dan kolek pisang. Mungkin karena sudah lapar ia segera mencampur kolek dengan nasi dan segera memakannya, karena kolek pisang tersebut disangkanya semur daging.

Baginya Elon pun rekan asrama yang sangat menyenangkan, karena dialah orang satu-satunya yang tidak pernah marah kalau kena diompoli teman yang tidur satu ranjang dengannya.

Kebiasaan makan mie instan tanpa digodok, sempat diingatkan oleh Elon pada Ero sahabatnya, saat ia akan berangkat ke Jogyakarta untuk menempuh pendidikan S2-nya di UGM.

Lain lagi cerita A. Rozak, Kasubag Agama di Kantor Kesra, ia yang dengan gigih memperjuangkan Elon agar diajukan menjadi salah satu calon Pemuda Pelopor Tingkat Nasional. Usahanya sempat ditolak Kabag Kesra saat itu. Namun, setelah Elon diuji oleh tim penyeleksi dari provinsi, semua orang dibuat tercengang. Ia bisa menjawab semua pertanyaan yang diajukan dengan cepat dan benar, bahkan pertanyaan dalam bahasa Inggris.

Setelah Elon memperoleh penghargaan sebagai Pemuda Pelopor Nasional tahun 1994, Elon diundang untuk menghadap Gubernur Jawa Barat, Yogie S. Memed. A. Rozak ikut mendampingi Elon menghadap gubernur. Di tengah sesi pertemuan, ia sempat ditegur oleh aspri atas permintaan gubernur agar Elon menanggalkan kacamata hitam yang dikenakannya, karena dianggap tidak sopan.

A. Rozak segera menjelaskan kondisi Elon. Yogie S. Memed terkejut setelah mendengarnya. Ia segera meminta maaf sambil memeluk Elon. Ia menawarkan segala fasilitas dan materi, namun Elon dengan tegas menolaknya. Tentu ini membuat kecewa bukan saja bagi pendampingnya, namun juga para teman yang menjemputnya di stasiun. Mereka berharap Elon pulang dengan membawa barang-barang hadiah. Namun, kenyataannya Elon hanya membawa sebuah pulpen pemberian sang Gubernur.

Menurut Toto Toharuddin, Kabag Kesra, Elon merupakan sumber insfirasi sekaligus motivator bagi atasan dan kawan-kawan sejawatnya. Sebagai anak buahnya, Elon sangat meringankan perkerjaan atasannya. Ia membuat semua program kerja dan sekaligus merealisasikannya dengan baik. Sang atasan hanya terima beres pada semua pekerjaan yang Elon lakukan. Salah satu Program Kesra yang dijalankan hingga saat ini, yang melibatkan anak-anak didik Elon adalah Program “Kesra Saba Desa”.

Program “Kesra Saba Desa” adalah program sosialisasi kegiatan pemda. Pada kegiatan tersebut dijelaskan berbagai program pemda yang akan dan sudah dilaksanakan dengan diselingi pada tampilan pertunjukan kesenian, di antaranya penampilan kesenian dari anak-anak asuhan Elon. Kegiatan tersebut berhasil menarik perhatian dan simpati masyarakat, terutama adanya kehadiran para anak cacat fisik yang menyanyi dan bermain musik layaknya anak normal.

Harapan dan Keinginan

Elon Carlan adalah satu-satunya seorang tuna netra dari Kabupaten Kuningan yang dalam kurun kurang dari sepuluh tahun berhasil meraih tiga gelar sarjana S1 untuk tiga disiplin ilmu berbeda. Gelar tersebut adalah Sarjana Ilmu Perkantoran dari UNIKU (Universitas Kuningan) tahun 2008, Sarjana Administrasi Negara dari UT (Universitas Terbuka) tahun 2000 dan Sarjana Bahasa Inggris dari IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Bandung pada tahun 2005.

Seterusnya ia melanjutkan pendidikan ke STIM (Sekolah Tinggi Ilmu Manajeman) Jakarta dan meraih gelar sarjana S2 tahun 2010. Kini ia menempuh pendidikan S3-nya di UNINUS (Universitas Islam Nusantara) Bandung. Ia berharap setelah pensiun bisa diangkat menjadi guru besar pada salah satu perguruan tinggi di Jawa Barat.

Selain itu ia ingin menjadi pelaku birokrasi yang bisa mengendalikan kebijakan sehingga bisa berbuat banyak lagi bagi kepentingan orang-orang yang serba kekurangan, baik kekurangan secara finansial, fisik atau keduanya.

(sumber:forumpemudapelopor.org)

Posting Komentar

0 Komentar