» » » » Maestro Wayang Golek Asep Sunandar Sunarya Tutup Usia

INOHONG.COM - Dalang kondang wayang golek khas Sunda Ki Asep Sunandar Sunarya (58) wafat di Rumah Sakit Al Ihsan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (31/3/14) sekira pukul 14.00 WIB karena serangan jantung.

Menurut asisten Asep, Jajang Rukmana,  dalang kreatif dan komunikatif tersebut merasakan nyeri dada saat berada di rumahnya sehingga langsung dibawa ke rumah sakit terdekat.

"Beliau meninggal di rumah sakit, dan menurut dokter akibat serangan jantung," katanya.

Jajang menambahkan "Abah Asep memang memiliki riwayat penyakit jantung, dan rencananya keluarga akan membawa berobat ke Singapura pada 13 April 2014. Namun, Allah menentukan lain."
Asep Sunandar Sunarya adalah maestro dalang wayang golek yang mampu membuat sosok wayang menjadi lebih atraktif dan komunikatif dengan penonton, misalnya membuat mainan helikopter yang dapat dinaiki tokoh cerita wayangnya.

Asep Sunandar lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 3 September 1955. Selaku dalang wayang golek Asep Sunandar Sunarya (di rumahnya biasa dipanggil Abah, di udara sebagai breaker menggunakan nama Eyang Abiyasa) konsisten pada bidang garapannya, teu incah balilahan. Beliau ditakdirkan untuk menjadi dalang oleh dalang yang sesungguhnya, yakni Tuhan. Ia begitu menyatu dengan dunia wayang golek yang Ia gelutinya sehingga penghargaan demi penghargaan, baik dari tingkat lokal, provinsi, nasional, bahkan manca negara Ia dapatkan.

Tanpa adanya seorang Asep Sunandar Sunarya mungkin Cepot tidak akan sepopuler sekarang ini, dengan kreativitas dan inovasinya Ia berhasil meningkatkan lagi derajat wayang golek yang dianggap seni kampungan oleh segelintir orang. Dimana ia menciptakan wayang Cepot bisa mangguk-mangguk, Buta muntah mie, Arjuna dengan alat panahnya, Bima dengan gadanya begitu pula dengan pakaian wayangnya yang terkesan mewah.

Materi dan ketenaran ia dapatkan hasil berjuang tanpa henti dengan menghadapi berbagai aneka dinamika kehidupan yang sering kali tidak atau kurang menyenangkan. Sebelum suka datang, tentu duka menghampiri, bahkan seringkali suka dan duka menyatu dalam rentang panjang perjalanan seorang Asep.
Orang tidak banyak tahu bahwa perjalanan dalam profesinya sebagai dalang, demikian berliku. Tidak jarang, diawal karirnya sering mendapatkan kritikan pedas dari berbagai kalangan terutama dari sang ayah (Abah Sunarya)

Pada diri Asep mengalir darah seni dari Ayahnya. Diawali sejak usia 7 tahun ( kelas 1 SD) minat Asep terhadap wayang golek sudah mulai tumbuh. Selain karna faktor turunan juga memang pada zaman itu pagelaran seni Wayang Golek masih digandrungi oleh masyarakat. Juga, pada saat itu belum ada

Banyak alasan kenapa Asep memperoleh aneka penghargaan tersebut. Yang jelas tidak mungkin ada penghargaan tanpa prestasi dan tidak mungkin ada prestasi tanpa karya. Dari berkarya kemudian berprestasi tentu merupakan tangga tersendiri, dan tangga ini hanya mungkin dilalui atau dicapai apabila padanya terdapat inovasi dari ragam kreativitas yang dilakoninya. Artinya, Asep tidak hanya sekedar berkarya namun lebih jauh dari itu ia berkarya disertai inovasi dan kreativitas. Artinya pula, karya Asep tidak stagnan melainkan dinamis, terus mengikuti perkembangan dan tuntutan zaman, ngindung kawaktu mibapa kajaman.

Selain penghargaan Individu Peduli Tradisi, Asep memiliki penghargaan atas semua kreativitasnya itu, diantaranya 1978 Asep Sunandar Sunarya berhasil menyandang juara Dalang Pinilih I tingkat Jawa Barat pada Binojakrama padalangan di Bandung. selang empat tahun kemudian yakni ditahun 1982, terpilih kembali menjadi juara pinilih I lagi di Bandung. sejak 1982-1985 Asep Sunandar Sunarya rekaman kaset oleh SP Record, dan Wisnu Record. Dan pada tahun 1985, ia dinobatkan sebagai Dalang Juara UMUM tingkat Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Subang, dan ia berhak memboyong Bokor Kencana sebagai lambang supremasi padalangan Sunda Jawa Barat.

1986, Asep Sunandar Sunarya mendapat mandat dari pemerintah sebagai duta kesenian, untuk terbang ke Amerika Serikat. Pada tahun yang sama, 1986, Dian Record mulai merekam karya-karya Asep Sunandar dalam bentuk kaset pita.

1993, Asep Sunandar Sunarya diminta oleh Institut International De La Marionnette di Charleville, Prancis, sebagai dosen luar biasa selama dua bulan, dan diberi gelar profesor oleh masyarakat akademis Perancis.

Tahun 1994, Asep Sunandar Sunarya mulai pentas di luar negeri, antara lain di; Inggris, Belanda, Swiss, Perancis, dan Belgia, setelah itu, yakni 1995, ia ,mendapat penghargaan bintang Satya Lencana Kebudayaan. Hingga sekarang, tidak kurang dari 100 album rekaman (termasuk bobodoran) yang sudah dihasilkan Asep Sunandar Sunarya. bahkan salah satu station tv swasta juga pernah membuat program khusus Asep berjudul Asep Show.

Dalam kesehariaanya, Asep tetaplah Asep yang hidup bersahaja, mengenakan sarung, dan bersila, serta "bercengkrama" dengan domba-domba peliharaanya.

Kini Sang Maestro telah berpulang. Jenazah almarhum  rencananya dimakamkan di pemakaman keluarga di Jelekong Baleendah, Kabupaten Bandung, pada Selasa pagi (1/4). (dbs)

«
Posting Lebih Baru
»
Posting Lama

Tidak ada komentar: