.

Header ads

Header ads

Ade Komaruddin Sempat Lumpuh Ketika Remaja

ANGGOTA DPR dari Fraksi Partai Golkar (FPG) Ade Komaruddin ternyata pernah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya.

Hal tersebut terjadi saat Ade yang akrab dipanggil Akom duduk di bangku kelas III Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kisah itu dapat dilihat dalam komik biografi "The Koboy Senayan Akom". Akom yang lahir di Kampung Benteng, Purwakarta, Jawa Barat (Jabar), harus belajar berjalan akibat lumpuh yang dideritanya.

Kelumpuhan diawali ketika Sekretaris FPG DPR itu, mengalami demam yang sangat tinggi. Dikarenakan pemahaman kesehatan masih rendah kala itu dan tidak ada dokter di kampung, Akom hanya diurut.

Sayangnya Akom tak kunjung sembuh. Bahkan sewaktu bangun pagi, Akom terjatuh dari tempat tidurnya. Kakinya sulit untuk berpijak. Kelumpuhan harus dihadapi Akom hingga menjelang masuk Sekolah Menengah Atas (SMA).

Uyut panggilan kakek Akom, tak pernah berhenti mengajarkan cucunya berjalan dan mengolesi air embun di kedua kaki Akom. Diharapkan dengan begitu Akom dapat berjalan normal kembali.

"Alhamdullilah Uyut, akhirnya saya bisa berjalan dan sekolah SMA," kata Akom dalam komiknya.

Akom meluncurkan komik biografinya, di Purwakarta, Jabar, Minggu (2/3). Komik itu juga dibedah oleh Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jabar, Ahmad M Ramli, Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Banten, Phil JM Muslimin dan Direktur utama Rajawali Nusantara Indonesia, Ismed Hasan Putro.

Acara peluncuran dihadiri ratusan siswa, mahasiswa dan mantan pengajar Akom di Sekolah Dasar (SD), SMP dan SMA. Komik setebal 147 halaman diterbitkan oleh Rakyat Merdeka Book.

Menurut Akom, dalam meraih kesuksesan membutuhkan proses dan tantangan. Sikap pantang menyerah harus dimiliki setiap masyarakat.

"Modal kita dalam hidup cuma satu yakni jangan pernah menyerah. Kita harus punya mimpi besar," katanya.

Dia menambahkan, setiap warga negara boleh bercita-cita, bahkan menjadi presiden sekalipun. "Lakoni hidup dengan baik, kerja keras, ketekunan dan hati yang putih," imbuhnya.

Dia mengaku banyak belajar dari buku-buku sejarah dan biografi tokoh. "Saya cuma menjalani apa yang saya lakukan dari buku-buku sejarah. Buku kehidupan saya pelajari dari guru. Buku-buku biografi saya pelajari. Itulah yang membuat saaya punya mimpi besar. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, semua bisa kita raih," ujarnya.

Akom dijuluki Koboy Senayan karena sikapnya yang tak pandang bulu dalam membela keadilan dan hak rakyat.

"Julukan Koboy Senayan tepat buat Akom. Komik ini inovasi yang baru. Dalam waktu 10 menit saja dibaca, kita sudah tahu tentang Akom," kata Guru Besar Fakulta Hukum Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat (Jabar) Ahmad M Ramli.

Dia menambahkan, komik tersebut banyak mengungkapkan pengalaman Akom.

"Ketika pengalaman diungkap dalam buku, maka diharapkan bisa menjadi inspirasi. Meski dengan kondisi keterbatasan dan keadaan apapun, Akom terus berusaha menjadi yang terbaik. Hal itu memotivasi kita agar terus maju," kata Ramli yang juga Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Hukum dan HAM.

Pada kesempatan yang sama Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Ciputat, Banten, Phil JM Muslimin berpendapat, terdapat suatu hal yang hilang dalam komik itu.

"Di balik prestasi Akom di DPR dan kiprah politiknya. Komik ini ada yang hilang. Akom di samping punya kepintaran dan handal dalam kepemimpinan, solidaritasnya luar biasa," kata Muslimin.

Dia menjelaskan, Akom merupakan figur yang sangat memegang teguh solidaritas persahabatan.

"Jam 2 pagi, kamar kosnya diketok oleh junior HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), Akom tidak pernah menolak. Banyak mahasiswa 'kanker' (kantong kering) yang dibantu Akom. Di balik ke-koboy-an Akom, sesungguhnya hatinya lembut dan sangat solider," jelasnya.

Sedangkan Direktur utama Rajawali Nusantara Indonesia, Ismed Hasan Putro yang turut membedah buku mengatakan, Akom mempunyai tiga kelebihan saat menjadi mahasiswa UIN.

"Akom punya daya survival (perjuangan), kecerdasan di atas rata-rata dan mampu membangun komunikasi baik dengan lingkungan sekitar," kata Ismed yang juga rekan Akom ketika menimba ilmu di UIN.

Menurut Ismed, para generasi muda harus mencontoh kiprah Akom dalam politik.

"Indonesia tak butuhkan anak bangsa yang ingin masuk politik lalu gadaikan martabat dan integritas untuk bertransksional dengan konglomerat sehingga mengakibatkan korupsi. Contohlah Akom yang gemilang dalam politik tanpa gadaikan martabat maupun integritasnya," tandasnya. (dbs)

Artikel lain tentang Ade Komaruddin klik disini.